PENGACARA DALAM SISTEM SYARIAH

1.Secara kelembagaan, advokat belum dikenal di kalangan orang-orang arab pra Islam| hanya saja, terdapat praktek yang berlaku saat itu |

2. Ketika terjadi sengketa antara mereka | yaitu mewakilkan atau menguasakan seorang pembicara atau juru debat | yang disebut حجيجا (hajij) atau حجاجا (hijaj) | untuk membela kepentingan yang memberikan kuasa atau perwakilan (al- Muwakkil).

3. Hal tersebut berlanjut hingga datangnya Islam | advokat belum eksis dan melembaga.

4. Akan tetapi cikal bakal advokat dalam Islam | bisa ditelusuri lewat praktek al- Wakalah yang sudah berkembang seiring dengan datangnya Islam.

5. Al-wakalah inilah yang menjadi bidzr (cikal bakal) profesi advokat.

6. Praktek al-Wakalah di zaman rasulullah saw | berdiri di atas prinsip tolong menolong yang diperintahkan oleh Islam.

7. Pada era Khulafa al-Rasyidun, praktek al-Wakalah semakin berkembang | Di masa inilah advokat mulai mengambil bentuknya.

8.Dalam Ensiklopedi Hukum Islam | disebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib pernah meminta ‘Uqail mewakilinya sebagai juru bicara dalam suatu perkara, begitu pula yang dilakukan Abu Bakar, Umar bin Khaththab dan Uşman bin Affan.

9. Barulah di zaman Khilafah Dinasti Umayyah, profesi advokat benar-benar melembaga | Hal ini terlihat pada profesi beracara di muka pengadilan Wilayah al-Mazhalim | Saat itu selalu melibatkan atau menghadirkan al-Humah dan al-A’wan (para pembela dan pengacara) | Kehadiran para pengacara ini diharapkan dapat meredam kekerasan dan keangkuhan hati para pejabat pemerintah yang diajukan ke persidangan atas pelangggaran yang dibuatnya terhadap anggota masyarakat.

10. Pada masa Khilafah Dinasti Abbasiyah | seiring dengan pesatnya perkembangan fiqh dan kajian hukum Islam | yang ditandai dengan munculnya mazhab-mazhab hukum Islam | konsep al-Wakalah (perwakilan) khususnya dalam perkara Khushumah (sengketa perselisihan antar anggota masyarakat) | baik perdata maupun pidana mulai disempurnakan dan dibakukan.

11. Kebolehan menunjuk seorang pengacara dalam pekara-perkara yang dipersengketakan, baik oleh penggugat (al- mudda’iy) terlebih lagi oleh pihak tergugat (mudda’a ‘alaih).

12. Lembaga advokat memasuki babak baru pada era akhir pemerintahan Khilafah Dinasti Utsmaniyah. | Pada Tahun 1846 M, untuk pertama kalinya didirikan sebuah universitas di Astanah yang membawahi sebuah akademi hukum yang nantinya melahirkan advokat.

13. Akademi ini bernama Maktab al-Huquq al-Syhaniy | Khilafah Utsmaniyah menyaratkan bahwa seorang advokat adalah yang dinyatakan lulus dan menyandang ijazah dari akademi tersebut|

14. Pada masa Khilafah Usmaniyah yaitu pada tahun 1292 H | diterbitkan sebuah peraturan yang disebut nizam wakaala’ wa da’wa (Sistem peraturan pengacara /kuasa hukum dan gugatan) | Menyusul kemudian peraturan-peraturan yang mengatur profesi kepengacaraan di beberapa negeri Islam.

15. Seseoarang boleh mendelegasikan suatu tindakan tertentu kepada orang lain itu bertindak atas nama orang pemberi kuasa atau yang maewakilkan sepanjang hal-hal yang dikuasakan itu boleh di delegasikan oleh hukum syara.

16. Pengacara/kuasa hukum harus mendapatkan persetujuan dari pihak lawan | dan juga tidak boleh pengacara/kuasa hukum itu musuh dari lawan.

17. Persetujuan itu harus didepan persidangan | jika diluar persidangan maka ditlak oleh pengadilan

18.Pengacara/kuasa hukum harus secara tegas dan serius menjalankan tugasnya. Pengacara/kuasa hukum ditunjuk secara langsung dan tegas oleh yang menunjuk sehingga benar-benar tertuju kepada wakil yang dimaksud

19. Apabila wakil/kuasa hukum yang ditunjuk ada beberapa orang, maka masing-masing wakil tidak dibenarkan bertindak sendiri sebelum bermusyawarah dengan wakil yang lain.

20. Baca selengkapnya dibuku Nizhamul Wakaala Wa Daa’wa |sistem peraturan kuasa hukum dan gugatan | karya Chandra Purna Irawan,M.H

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here