JAKARTA. Pasukan Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Prancis bersamaan menggempur Syria dengan serangan udara, Sabtu pagi (14/4). Sebelumnya Presiden AS Donald Trump mengumumkan AS siap melakukan aksi militer di Syria. Trump mengatakan, dia siap untuk mempertahankan serangan sampai pemerintah Assad menghentikan penggunaan senjata kimia.

Menanggapi hal itu, Chandra Purna Irawan.,SH.MH. menanggapi “Upaya “pembelaan” AS dan sekutunya terhadap warga suriah yang diserang gas beracun oleh Presidennya sendiri Bashar Al Assad, dengan cara menggempur Syria dengan serangan udara tidak bisa dibenarkan karena akan menimbulkan korban sipil yang lebih banyak”. Ketika SH.com tanya apakah mungkin yang terlibat dalam serangan tersebut diadili di ICC (International Crime Court)?. Beliau menjawab “secara dejure bisa, tetapi secara defacto sangat sulit. Mahkamah Pidana Ingernasional hanya akan bisa berjalan jika kekuatan politik yang mendorong. Siapa? Yaitu PBB. Tetapi PBB akan sulit karena yang memegang hak veto yaitu AS, Rusia, Inggris, dll.”. Apakah tindakan AS, Rusia sekutunya dan Presiden Suriah yang membunuh rakyatnya bisa dikategorikan Genosida?. Ketua Eksekutif Nasional BHP KSHUMI menyatakan “Berdasarkan pasal 1 Konvensi Genosida, “The Contracting Parties confirm that genocide, whether committed in time of peace or in time of war, is a crime under international law which they undertake to prevent and to punish.” dan berdasarkan pasal 6 Statuta Roma, dinyatakan bahwa “”genocide” means any of the following acts committed with intent to destroy, in whole or in part, a national, ethnical, racial or religious group, as such: (a) Killing members of the group; (b) Causing serious bodily or mental harm to members of the group; (c) Deliberately inflicting on the group conditions of life calculated to bring about its physical destruction in whole or in part; (d) Imposing measures intended to prevent births within the group; (e) Forcibly transferring children of the group to another group”. beliau menegaskan “Berdasarkan Statuta Roma tentang Pengadilan Pidana Internasional dan Konvensi Genosida, saya menganalisis tindakan yang diambil terhadap penduduk Aleppo, Ghouta dll di Suriah termasuk genosida. saya menggunakan 2 (dua) metode, yaitu Actus Reus (aksi) dan Mens Rea (niat jahat) dalam serangan tersebut.” [redaksi]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here